Bukan hanya tampan dan terkenal, seorang pria kelahiran tasikmalaya ini juga punya prestasi besar yang mengharumkan nama Indonesia. Putra kedua dari 12 bersaudara ini merupakan keturunan bangsawan. Ayahnya bernama Raden Burdah Anggawirya adalah salah satu pejuang dan pahlawan kemerdekaan.
Darah musik sudah mengalir pada diri Rhoma Irama sejak ia kecil. Ketertarikan terhadap musik kian membeludak ketika ia duduk di bangku SMA. Saat itu Rhoma tinggal di Solo dengan kehidupan yang cukup memprihatinkan. Ia bahkan pernah menjadi pengamen jalanan demi menyambung hidup.
Karir Musik Rhoma Irama dimulai sejak kelas 4 SD
Karirnya di dunia musik berawal sejak kelas 4 SD ketika Bing Slamet membawanya untuk menyanyi di Serikat Buruh Kereta Api Manggarai. Saat itu bakat menyanyinya semakin terlihat jelas. Rhoma terus bergelut dengan musik hingga membentuk band bernama Gayhand. Setelah itu, ia juga masuk dalam grup orkes Chandra Leka. Karir musik Rhoma ini tidak semulus yang dibayangkan. Ia juga harus menghadapi kesulitan dan jatuh bangun dalam menggapai mimpinya.
Karir Roma mulai tercium publik ketika ia membentuk sebuah band dangdung bernama soneta. Bersama band inilah Rhoma sukses memproduksi album-album dangdung yang laris di pasaran. Konon kabarnya, setiap album yang dirilis Rhoma terjual minimal 400 ribu copy.
Rhoma Irama juga Sukses di dunia per Film-an
Bukan hanya bermusik, bakat seninya juga dialirkan melalui film-film nusantara. kesuksesan Roma di seni peran tidak kalah dengan bidang musik. Dari sanalah karir Rhoma semakin meroket. Tak heran bila ia kembali merasakan kemewahan hidup.
Pada tahun 1971, Rhoma berhasil menyabet gelar juara pada ajang menyanyi di Singapura. Ia berhasil menyingkirkan kontestan dari negara ASEAN lainnya. Kemudian pada tahun 1985 ia dinobatkan menjadi Raja Musik Asia Tenggara oleh majalah Asia Week. Tidak cukup sampai disitu, Roma juga meraih penghargaan dari Industri musik di negara-negara lain. Bahkan ada albumnya yang dirilis ulang dalam bahasa Inggris.
Rhoma Irama sangat taat dalam Beragama
Satu hal yang tidak ditinggalkan oleh seorang Rhoma, yaitu pendidikan beragama. Ia bukan hanya seniman, tapi juga kyai yang berceramah ke banyak tempat di Indonesia. Rhoma melabelkan musiknya sebagai nada dan dakwah dengan syair-syair yang mengajak pada kebaikan. Contohnya adalah lagu begadang dan judi.
Karir Rhoma masih harus terganjal kembali saat orde baru berkuasa. Syair lagunya yang banyak mengkritik pemerintah membuat Rhoma harus rela diboikot selama 11 tahun. Tapi semua itu tidak lantas membuat Roma hilang dari belantara musik Indonesia. Buktinya, Rhoma justru akhirnya didaulat sebagai Raja dangdut bersama Elvy Sukaesih sebagai ratunya.
Kini, pemilik julukan “satria bergitar” ini masih terlihat menghibur pemirsa meskipun tidak sesering dulu. Nama besar Rhoma pun masih tersemat di hati para fansnya hingga saat ini.